Kamis, 15 Mei 2014

Laporan Lengkap phylum Coelenterata

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Istilah Coelenterata diambil dari bahasa Yunani coilos=rongga, enteron=usus. Gabungan istilah tersebut tidak diartikan sebagai hewan yang ususnya berongga, tetapi cukup disebut hewan berongga. Istilah tersebut juga mengindikasikan bahwa hewan coelenterate tidak memiliki rongga tubuh sebenarnya, melainkan hanya berupa rongga sentral yang disebut coelenterons.
Habitat Coelenterata seluruhnya hidup di air, baik di laut maupun di air tawar. Sebagian besar hidup dilaut secara soliter atau berkoloni. Ada yang melekat pada bebatuan atau benda lain di dasar perairan dan tidak dapat berpindah untuk bentuk polip, sedangkan bentuk medusa dapat bergerak bebas melayang di air. Coelenterata terutama kelas Anthozoa yaitu koral atau karang merupakan komponen utama pembentuk ekosistem terumbu karang. Ekosistem terumbu karang merupakan tempat hidup beragam jenis hewan dan ganggang.  Dua puluh lima persen ikan yang dikonsumsi manusia juga hidup pada ekosistem ini. Selain itu, terumbu karang sangat indah sehingga dapat di jadikan objek wisata. Karang di pantai sangat bermanfaat sebagai penahan ombak untuk mencengah pengikisan pantai.
Adapun yang melatarbelakangi diadakannya praktikum ini yaitu  untuk mengamati struktur morfologi dan anatomi organisme yang tergolong Coelenterata dan mengklasifikasikannya

1.2  Tujuan
1)      Untuk mengetahui dan mengamati habitat Phylum Coelenterata
2)      Untuk mengetahui dan mengamati ciri dan jenis Phylum Coelenterata
3)      Untuk mengidentifikasi Phylum Coelenterata
4)      Untuk mengetahui klasifikasi Phylum Coelenterata

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Coelenterata umumnya hidup di laut, hanya beberapa jenis yang hidup di air tawar. Dalam siklus hidupnya ia dapat berbentuk polip yaitu hidup menempel pada  suatu substrat atau berbentuk medusa yang bebas berenang. Bentuk polip tubuhnya berbentuk silindris, bagian proksimal melekat, bagian distal mempunyai mulut yang dikelilingi tentakel. Mulut bermuara ke dalam rongga gastrovaskuler atau enteron yang berfungsi untuk mencerna makanan dan mengedarkan sari-sari makanan. Medusa umumnya berbentuk seperti paying atau lonceng, tentakel menggantung pada permukaan paying. Tentakel berfungsi untuk menangkap makanan, alat gerak dan mempertahankan diri. Susunan saraf berupa anyaman sel-sel saraf yang tersebar secara difusi. Coelenerata merupakan hewan yang belum memiliki anus.
Coelenterata termasuk hewan diploblastis, yaitu memiliki dua lapisan lembaga berupa ectoderm dan endoderm. Dinding tubuh terdiri atas epidermis dan gastrodermis, dan diantara kedua lapisan tersebut terdapat lapisan mesoglea. Baik epidermis, maupun gestrodermis dilengkapi dengan sel-sel jelatang, deman didalamnya terdapat kantung yang berisis racun dan dilengkapi dengan alat penyengat dan disebut nematosit yang berfungsi sebagai alat pertahanan, melumpuhkan mangsanya, dan terlibat  dalam proses pencernaan.
Karang sering kali hanya merupakan bagian rangka kapur atau bagian penguat yang keras, bagian lunaknya sudah hilang/mati. Untuk pengamatan yang masih hidup, amati dimana letak bagian yang lunak tadi. Hydra merupakan polip yang hidup soliter dalam arti tidak berkoloni, hidup di air tawar misalnya di kolam, di empang, di danau, rawa-rawa dan lain-lain. Dapat berpindah tempat, tetapi biasanya terikat atau melekat pada suatu objek, misalnya batu-batuan, pokok kayu, tanaman air dan lain-lain.
Ubur ubur mudah dikenal karena bentuknya unik yakni seperti payung dengan warna putih/bening, ukuran relative besar sering ditemukan di tepi pantai dan banyak dimanfaatkan untuk kerupuk ubur-ubur. polipAurelia berukuran kurang lebih 5 mm, terikat pada suatu objek didasar laut. Diameter tubuh biasanya berkisar antara 7,5 cm hingga 30 cm tapi ada juga yang mencapai 60 cm. Saluran pencernaan makanan pada ubur-ubur berupa gastrovaskular. Di tengah permukaan tubuh sebelah bawah muncullah semacam kerongkonan pendek menggantung ke bawah.
Hydra, hidup di air tawar yang jernih dinginn tidak hangat,air tergenang (kolom atau danau) menempel pada batu-batuan atau daun tanaman air. Ada yang hidup bersimbiosis dengan ganggang hijau. Karena hidup menempel maka untuk memperoleh makanan dibutuhkan peergerakan. Pergerakan dengan membengkokkan atas bantuan tentakel yang melekatkan dirinya pada substrat maka kaki dapat terangkat dan pindah posisi atau dapat pulau dengan berenang dan dapat pula menggunakan tentakel sebagai kaki dengan kontraksi memendek memanjang.
Coelenterata dibedakan dalam tiga kelas berdasarkan bentuk yang dominan dalam siklus hidupnya, yaitu Hydrozoa, Scypozoa, dan Anthozoa. Hydrozoa (dalam bahasa yunani, hydro = air, zoa = hewan) sebagian besar memiliki pergiliran bentuk polip dan medusa dalam siklus hidupnya. Hydrozoa dapat hidup soliter. Contoh Hydrozoa adalah Hydra, Obelia, dan Physalia. Untuk Obelia merupakan Hydrozoa yang hidupnya berkoloni di laut. Obelia memiliki bentuk polip dan medusa dalam siklus hidupnya.Scyphozoa (dalam bahasa yunani, scypho=mangkuk, zoa=hewan) memiliki bentuk dominan berupa medusa dalam siklus hidupnya. Medusa Scyphozoa dikenal dengan ubur-ubur. Medusa umumnya berukuran 2–40 cm. Reproduksi dilakukan secara aseksual dan seksual. Polip yang berukuran kecil menghasilkan medusa secara aseksual. Contoh Scyphozoa adalah Cyanea dan Chrysaora fruttescens. Anthozoa (dalam bahasa yunani, anthus=bunga, zoa=hewan) memiliki banyak tentakel yang berwarna-warni seperti bunga. Anthozoa tidak memiliki bentuk medusa,hanya bentuk polip. Polip Anthozoa berukuran lebih besar dari dua kelas Coelenterata lainnya. Hidupnya di laut dangkal secara berkoloni. Anthozoa bereproduksi secara aseksual dengan tunas dan fragmentasi, serta reproduksi seksual menghasilkan gamet. Contoh Anthozoa adalah Tubastrea (koral atau karang), Acropora, Urticina (Anemon laut), dan turbinaria. Koral hidup di air jernih dan dangkal karena koral bersimbiosis dengan ganggang. Ganggang memberikan makanan dan membantu pembentukan rangka pada koral. Sedangkan koral memberikan buangan yang merupakan makanan bagi ganggang serta perlindungan bagi ganggang dari herbivora.Rangka koral tersusun dari zat kapur. Rangka koloni dari polip koral inilah yang membentuk karang pantai (terumbu karang).


BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
            Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :
a.      Alat                                                                 b. Bahan
§  Thermometer                                                   - Formalin 70%
§  Salinometer                                                     - Alkohol 70%
§  Do meter                                                         - Air
§  Sarung tangan                                                 - Sampel Phylum porifera
§  Snar kecil
§  Toples
§  Ember
§  Kertas tebal
§  Alat tulis menulis
3.2 Prosedur Kerja
1.      Menyiapkan Alat dan Bahan
2.      Mengobservasi keadaan fisik kimia lingkungan pengamatan
3.      Mengamati habitat, ciri-ciri dan bentuk Phylum Coelenterata
4.      Mengambil sampel Phylum Coelenterata
5.      Mengidentifikasi, mengklasifikasikan dan menggambar sampel Phylum Coelenterata yang ditemukan
6.      Memasukan data kedalam tabel hasil pengamatan
7.      Mengawetkan sampel Phylum porifera dengan menggunakan formalin 70% dan air
3.3 Hasil Pengamatan
Waktu             : 09.00 - Selesai WITA
Tempat            : Daerah pusentasi (pusat laut) Kec. Banawa Tengah Kabupaten 
                           Donggala
Tabel 1.1 Kondisi Fisik-kimia Lingkungan
No
Parameter
Waktu
Kisaran
1
2
3
4
Suhu
Salinitas
Kelembaban
PH Tanah

20oC
8,30

8,2

Tabel 1.2
No
Nama/Gambar
Ket
Klasifikasi
I
Kelas : Hydrozoa


1. tentakel
2. mulut
3. rongga
4. epidermis
5.cakram    basal

 Kingdom     : Animalia
 Phylum        : Colenterata
 Class            : Hydrozoa
 Ordo             : Hydroales
 Family          : Hydroales
 Genus            : Hydra
 Spesies          : Hydra Sp
II
Kelas: Scyphozoa

1. tentakel
2. mulut
3. rongga gastrovaskulas
4. epidermis

 Kingdom     : Animalia
 Phylum        : Coelenterata
 Class            : Semaestomae
 Ordo             : Aurelidae
 Family          : Aurelia
 Spesies          : Aurelia SP




III
Kelas : Antozoa


1. Epidermis
2. Lander
 Kingdom     : Anamalia
 Phylum        : Colenterata
 Class            : Antozoa
 Ordo             : Zoanthama
 Family          : Fungilidae
 Spesies           : Fungilia sp
IV
Kelas : Antozoa

1.      Polip

 Kingdom     : Anamalia
 Phylum        : Colenterata
 Class            : Antozoa
 Ordo             : Madreporaric
 Family          : Acroporidae
 Genus            : Acropora
 Spesies          : Acropora sp
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Hydra sp
a.  Morfologi
Bentuknya seperti payung yang tidak begitu cembung. Diameter tubuh berkisar antara 7,5 cm hingga 30 cm, tetapi ada juga satu dua dapat mencapai 60 cm.  warna tubuh ubur – ubur adalah transparan, maka bentuk – bentuk Kristal yang ada pada lapisan mesoglea tampak dengan jelas, walupun demikian di bagian tubuh terbentuk tampak berwarna putih kebiru- biruan atau putih kemerahan  merahan. Kerena tubuh ubur – ubur jernih transparan maka gonad yang ada di dalam tubuh tampak jelas dari permukaan tubuh. Setiah sisi atau sudut mulut dilengkapi semacam juluran pita yang merentang pangjang yang disebut tangan mulut tersebut dibagian basis menyapu sedemikian rupa sehingga mengelilingan rongga atau lubang mulut (Jasin, 1992).
b.  Anatomi
Pada permukaan tubuh hydra terdiri dari tentakel, nematokosit, muluthy postome, rongga, kuncup, epidermis, mesoglea, gastrodermis, cakram, basal, ovarium, testes yang berperang penting dalam struktur tubuh hydra.
c.  Fisiologi
Hydra mempunyai cara – cara reproduksi, baik secara aseksual dengan membentuk kuncup dengan membelah diri. Reproduksi secara seksual atau generatif dilakukan dengan pembentukan gonad dan hanya terjadi pada musim tertentu saja.
4.2   Aurelia aurita
a.    Morfologi
Ciri-ciri morfologi dari ubur-ubur antara lain: tubuhnya berbentuk tseperti paying atau lonceng ukuran tubuhnya relative besar. Polip Aurelia berukuran kurang lebih 5 mm, terikat pada suatu objek di dasar laut. Diameter tubuh biasanya berkisar antara 7,5 cm hingga 30 cm tapi ada juga yang mencapai 60 cm. saluran pencernaan makanan ubur-ubur berupa gastrovaskular. Di tengahpermukaan tubuh sebelah bawah muncullah semacam kerongkongan pendek menggantung ke bawah (Muhammad, 2012).
b.  Anatomi
Ubur-ubur memiliki mulut di tengah, dikelilingi oleh empat palps dan organ seks, terdapat  empat   mulut pusat.  ubur-ubur memiliki tentakel pinggiran tepi. Ubur-ubur berenang dengan kontrak dan otot-otot. Kontraksi otot-otot mengencangkan bagian bawah, seperti mencabut drawstrings di tas.  Hal ini akan memaksa air keluar melalui bagian bawah, dan mendorong ubur-ubur ke depan.  Relaksasi otot membuka untuk mempersiapkan diri untuk kontraksi lagi.  Pada  ubur-ubur dengan  berbentuk piring  ini dapat mengakibatkan gerakan dendeng, kontraksi kuat memberikan gerak kuat.  Kontraksi otot-otot perifer dikendalikan oleh jaringan saraf.  Tidak ada otak mengendalikan atau sistem saraf pusat untuk koordinasi bantuan (Muhammad, 2012).
Pada dinding  delapan   sensitif terhadap cahaya, dan delapan statocysts, yang membantu ubur-ubur mempertahankan diri.  Juga terkait dengan ini adalah lubang chemosensory, mungkin digunakan dalam mendeteksi makanan.  Organ indra terjadi dalam delapan kantong sekitar tepi bel, dan Di bawah dan sekitar mulut biasanya terdapat empat lengan lisan, pada  beberapa ubur-ubur raksasa, senjata-senjata oral mungkin diperbesar sebanyak 40 meter panjang,.  Ada juga renda kecil tentakel bel dari medusa.  Lengan lisan dan sel-sel penyengat yang disebut cnidocysts terkenal, yang digunakan baik untuk pertahanan dan untuk melumpuhkan mangsanya (Muhammad, 2012).
c.    Habitat
        Ubur-ubur hanya berhabitat  di perairan dangkal dan dalam di laut.
4.3  Fungia sp
a.   Morfologi
Merupakan karang yang berbentuk seperti jamur, bisanya berkoloni dan berkembang ke samping. Terdapat skeleton yang dibuat oleh epidermis. Tubuh radial simetris dengan warna putih keruh (Jasin, 1992).
b.  Anatomi
Dingding rongga anteron memgadakan pelipatan secara konsentris yang biasa disebut septe. Lapisan mesoglea bersifat seluler, letek mulut tidak langsung berhubungan kerongkongan sebelah dalam. Gonad berasal dari lapisan gastrodermal (Jasin, 1992).
c. Fisiologi
Spermatozoa pada jantang dipancarkan masuk kedalam air lalu berenang – renang mencari tubuh  betina. Secara aseksual dilakukan dengan cara bertunas (Jasin, 1992). Dalam hal pernapasan baik pemasuka O2 maupun keluar Co2 berlangsumg, secara difusi osmosis secara langsung melalui semua permukaan tubunya (Jasin, 1992).
Secara ekstraseluler dan intraseluler. Hewan ini tidak memilki alat eksresi khusus (Jasin, 1992).
d. Habitat
Hidup di air laut hangat dan jernih dengan melatkkan diri pada suatu obyek yang terdapat pada dassar laut(Jasin, 1992).
4.4   Acropora sp.
a. Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Coelenterata
Class                : Anthozoa
Ordo                : Madreporaria
Family             :Acroporidae
Genus              : Acropora
Spesies            : Acropora sp.
b. Ciri - ciri
Kedalaman : Karang ini banyak dijumpai hidup pada kedalaman 3-15 meter. Ciri-ciri Koloni bisa mencapai 2 meter luasnya dan hanya terdiri dari satu spesies.
 Radial koralit kecil, berjumlah banyak dan ukurannya sama. Warna acropora Abu-abu muda, kadang coklat muda atau krem. Kemiripan : A. copiosa, A. Parilis, A. Horrida, A. Vaughani, dan A. exquisita. Distribusi : Perairan Indonesia, Solomon, Australia, Papua New Guinea.Habitat : Reef slope bagian atas, perairan keruh dan lagun berpasir.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pratikum yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
1)     Organism yang tergolong dalam kedalam spesies dari phylum coelenterate adalah hydta sp, Aurelia aurita, Fungia sp, dan Solanastrea sp.
2)     Pada specimen yang diamati bagian – bagian yang namapak yaitu tentakel, mulut, nematokist, epidermis, dan gastrodermis. Pada klass hydrozoa adalah Hidra sp, klas Scypozoa,adalah Aurelia aurita, dan kelas anthozoa fungi dengan soloanasrea.
5.2  Saran
Sebaiknya dalam pratikum dosen yang pembibing member penjelasan sebelum melakukan pengamatan agar pratikum jalan dengan maksimal.
DAFTAR PUSTAKA


Hala,Yusminah. Daras Biologi Umum II. Makassar: Alauddin Press. 2007.  
Jutje  S Lahay. Zoologi Invetebrata. Makassar: Universitas Negeri Makassar. 2006

Mengenal Seluk Beluk Phylum Coelenterata. http. File: //gurungeblog. wordpress. com. ( Tanggal 29 Juni 2011 ).

Suwignyo,Sugiarto. Avetebrata Air Jilid I1. Jakarta: Penebar Swadaya. 2005.
Tim Dosen. Penuntun Praktikum Zoologi Invetebrata. Makassar: Uin Alauddin Makassar.2011.

di koment ya

0 tinggalkan jejak anda, dengan menanggapi postingan:

Poskan Komentar

sehabis membaca, tinggalkan pesan anda ya.. sehingga saya bisa tau respon dari orang-orang yang mampir diblog saya.. ok???